Article

Modeling Itu Mudah : Licensed Master Practitioner of NLP™

By: Ronny F. Ronodirdjo, Posted: 28 May 2009

Siang bolong jam 13.15 di Ruang Mawar Hotel Santika Jakarta, tiba-tiba susana menjadi senyap, saat Pak Yan mendemokan penggunaan hypnosis skill di kelas Master Practitioner of NLP™. Laiknya seorang penari yang gemulai menarikan tariannya, Pak Yan secara piawai sekali menunjukkan kebolehannya melansir proses hypnosis dengan sangat smooth! Jurus Ericksonian dan Non Ericksonian bergulir satu demi satu yang menunjukkan tingginya “flying watch” (alias Jam Terbang menurut tukul). Hari ini Pak Yan hadir sebagai tamu penting di kelas Master Practitioner of NLP™, dan bersedia berbagai ilmu secara luarbiasa sekali.

Tema Master Practitioner adalah Modeling, secara praksis, bukan teoritis. Proses modeling hari ini sangat terasa memenuhi iklim ruangan, saat Pak Yan beraksi. Semua mata peserta Master Practitioner of NLP™ sudah beralih ke modus Periveral Viewing, menyerap habis excellency di depan mata itu dengan metode Deep Trance Indentification.

Sementara peserta melakukan proses unconscious modeling, di sudut lain dari ruangan -dengan rileks- Trainer NLP mengawal proses itu dengan mengkodekan language pattern, belief systems, mental syntax (VAK, Modal Operator dan Meta Program), dan fisiologi dari Pak Yan.

Peserta Master Practitioner of NLP™ selama 5 hari sebelumnya sudah disuguhi, mengunyah dan mencerna berbagai teknik modeling melalui proses terstruktur yang dirangkai indah. Rangkaian pembelajaran berlangsung secara conscious melalui latihan, dan juga terjadi unconscious installation melalui proses nested loop. Sebelum peserta mengalami 2 hari lagi ke depan untuk menggenapkan ilmu NLP, diberikan kesempatan melakukan proses live encoding alias live modeling yang merupakan ilmu NLP kelas tinggi warisan rahasia dari Eyang Guru Bu Kek Siansu… Hehehehe, kok jadi ngelantur kayak cerita silat saja….

Ilmu live modeling, merupakan teknik di kelas mahir bagi seorang pembelajar NLP. Terdiri dari 3 jenis pendekatan modeling, ketiganya saling melengkapi dan saling mengisi, melibatkan conscious process dan unconscious process. Sungguh mencengangkan, batu penjuru yang diletakkan dengan baik dan sistem metodis yang diciptakan oleh sepasang jenius Dr Richard Bandler dan Dr John Grinder ini. Hmmm, keduanya tidak sekedar hanya memformulasikan NLP dari berbagai sumber terserak.

Mereka bukan pemulung yang cuman tinggal mengumpulkan dan memasukkan benda-benda di dalam karung. Ibaratnya, mereka mampu melampaui pembelajaran di level “hakekat” keunggulan, dan dengan luarbiasanya mampu menggubahnya dalam bahasa “syari’at” dengan langkah-langkah yang sederhana. Mereka menciptakan suatu teknologi NLP yang terlihat, terasa dan terdengar mudah bagi orang awam, sehingga sering pembelajar baru menjadi jumawa. Saat kita merasakan kemudahan yang diciptakan oleh NLP, bukanlah berarti bahwa menciptakan NLP itu sendiri adalah mudah. Kedua “dedengkot” ini dengan sukses telah meletakkan dasar modeling, mengembangkannya dan menjadikan proses pembelajaran keunggulan menjadi mungkin dan mudah dilakukan. Puji Tuhan, moga mereka berdua dan para Co-Developer awal NLP lainnya diberkati Tuhan YME, diampuni kesalahannya, dan dilipatgandakan amal jariyahnya, amien. Demikian juga bagi guru-guru NLP saya lainnya….

Mengikuti kelas Master Practitioner of NLP ™ disebut kelas mahir, karena dalam di kelas ini peserta belajar dan memakai metode modeling yang berlandaskan semua teknik NLP seseorang,. Melibatkan kemampuan mengenali pelanggaran Meta Model, mengenali penggunaan Milton Model, mengenali bagaimana submodality dipakai dalam predikat, adverb dan adjective, reframing, struktur belief systems, anchor, analog marking, kemampuan membedakan struktur dengan konten, mengenali state of mind, kemampuan associates dan disassociate, periveral viewing,

Entah sebenarnya berapa tahun harus diperlukan untuk mendapatkan keahlian seperti yang dimiliki Pak Yan, jika seseorang memodel tanpa penggunaan NLP. Luar biasanya, memodel hypnosis proses yang dilakukan Pak Yan di kelas hari ini, sungguh begitu gamblang. Seperti melihat suatu sketsa prototipe model pesawat yang mudah ditiru. Ini semua mengingatkan kembali semangat yang ada di Santa Cruz California pada tahun 70-an. Sebanyak 13 orang dalam kondisi waking deep trance memotret ilmu Pak Yan menggunakan Periveral Viewing, kemudian cepat-cepat beralih melanjutkan proses Deep Trance Identification dan dilanjutkan dengan secara conscious meng-crack belief system, language pattern dan state of mind / fisilogis-nya.

Saat diminta mempresentasikan hasil cracking tersebut, dua orang peserta mewakili rekan yang lain mempresentasikan di atas panggung. Dan sungguh membanggakan, bahkan Pak Yan menyatakan salut atas kemampuan peserta dalam memotret dan menganalisis apa yang dilakukannya. Selamat, peserta Master Practitioner ini memang luar biasa! Bayangkan, saat saya mengambil Master Practitioner yang pertama kali saja, belum mampu melakukan hal itu. Wow…, sungguh membuat iri!

Jadi sungguh beruntung, di sebuah pelatihan Master Practitioner of NLP™, kita di dukung oleh hypnotherapy trianer yang piawai sekelas Pak Yan, yang kemudian menjadi Role Model untuk di crack habis-habisan dengan ilmu modeling tadi.

Pak Yan lantas naik ke panggung lagi, mengulas pendapatnya mengenai modeling tadi, dan mendemokan beberapa teknik lagi, yang dipenuhi dengan gurihnya confusion techniques, pattern interrupt, creating reality to pace, creating pattern to pace (back door pattern), dan sebagainya. Well istilah-istilah itu bukan bahasa hypnosis lho, itu merupakan bahasa NLP untuk meng-crack ilmu hypnosis.

Kemudian secara back to back, Pak Yan dan NLP Trainer duduk di depan menjelaskan berbagai pertanyaan dalam 2 bahasa : bahasa hypnosis dan bahasa NLP. Wah…., dual core! Demo berikutnya adalah penggunaan Submodality dalam hypnotherapy, cantik sekali! Transisi yang nyaris tidak terdeteksi oleh peserta, bagaimana proses terapy ini berlangsung, kapan masuk hypnotic state dan kapan terjadi perubahan. Beruntung NLP Trainer menjelaskan dengan gamblang, mengenai setiap langkah yang dilakukan Pak Yan dalam perspektif NLP. Bagaimana tepatnya urut-urutan proses/strukturnya ditinjau dari NLP, bagaimana induksinya, bagaimana terjadi submodality remap, sumber daya apa yang diambil dari bawah sadar, dan seterusnya. Uniknya, bahkan NLP Trainer kemudian menunjukkan bagaimana hubungan proses terapi ini dengan semua presuposisi dalam NLP.

Yah, semoga tulisan ini dapat dipakai untuk mengobati kerinduan kawan-kawan yang sering bertanya, bagaimana sih sebenarnya modeling proses itu. Kami tunggu kisah yang lebih dahsyat dari Anda semua!